Tanda Tangan Damai di Tugu Salib, Willem Wandik Ajak Warga Tolikara Kembali Bersaudara

WANUAMILENIALTODAY, TOLIKARA – Upaya meredam konflik antarkelompok di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, mulai menunjukkan hasil positif. Sehari setelah Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turun langsung ke tengah masyarakat yang terlibat perang suku, dua kelompok yang sebelumnya bertikai akhirnya menandatangani fakta integritas dan deklarasi damai.Sabtu (31/10/2026) Penandatanganan deklarasi damai tersebut…

WANUAMILENIALTODAY, TOLIKARA – Upaya meredam konflik antarkelompok di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, mulai menunjukkan hasil positif. Sehari setelah Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turun langsung ke tengah masyarakat yang terlibat perang suku, dua kelompok yang sebelumnya bertikai akhirnya menandatangani fakta integritas dan deklarasi damai.Sabtu (31/10/2026)

Penandatanganan deklarasi damai tersebut berlangsung di depan Tugu Salib Kabupaten Tolikara. Momen ini menjadi penanda penting bahwa ruang dialog dan pendekatan persuasif mulai membuka jalan bagi pemulihan situasi keamanan dan kehidupan sosial masyarakat.

Suasana yang sebelumnya sempat memanas kini berangsur kondusif. Kesepakatan damai tersebut sekaligus menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang selama beberapa waktu diliputi kecemasan akibat konflik.

Baca Juga :  Bermodal Kejujuran, Rahmat Bafaddal Sukses Bangun Usaha AC di Sidrap

Langkah pendekatan yang dilakukan Willem Wandik bersama Forkopimda tidak hanya berhenti pada imbauan dari balik meja pemerintahan. Bupati memilih hadir langsung, menemui pihak-pihak yang bertikai, mendengarkan persoalan mereka, sekaligus membangun komunikasi dari hati ke hati.

Dialog persuasif menjadi pendekatan utama untuk mengajak kedua kelompok mengakhiri pertikaian dan kembali membangun hubungan persaudaraan.

Bagi Willem Wandik, perdamaian bukan sekadar menghentikan bentrokan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman, tanpa rasa takut dan tanpa bayang-bayang permusuhan.

Kehadiran Bupati di sejumlah lokasi pengungsian, baik di masjid maupun gereja, juga menjadi bagian dari upaya memberikan ketenangan kepada masyarakat terdampak. Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah hadir untuk seluruh warga, tanpa membedakan latar belakang maupun tempat mereka mencari perlindungan.

Baca Juga :  Dosen Ilmu Perikanan UMS Rappang Dorong Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan dan Pemanfaatan Ikan Sapu-sapu di Danau Sidenreng

Di tengah situasi yang membutuhkan kepedulian bersama, pendekatan kemanusiaan dan komunikasi lintas kelompok menjadi sangat penting. Pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda terus mendorong agar kesepakatan damai tidak hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah Kabupaten Tolikara berharap seluruh pihak dapat menjaga komitmen yang telah disepakati serta tidak lagi mengulangi tindakan yang berpotensi memicu konflik serupa.

Lebih dari sekadar tanda tangan di atas dokumen, deklarasi damai di depan Tugu Salib itu diharapkan menjadi awal untuk merajut kembali persaudaraan yang sempat terkoyak.

Saling sayang, saling cinta, dan saling mengasihi harus menjadi bahasa bersama masyarakat Tolikara. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyakiti, sebab kedamaian dan persaudaraan merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan daerah.

Baca Juga :  Putra Tokoh Politisi dan Pengusaha Sidrap Dipercaya Pimpin Event Besar, Aan Wahyu Junaedy Jadi Ketua Panitia 1st Anniversary AVOCE Bersama Harum Lestari

Di Bumi Nawi Arigi, masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga harmoni. Pemerintah dapat membuka ruang dialog dan memfasilitasi perdamaian, tetapi keberlanjutannya membutuhkan komitmen seluruh elemen masyarakat.

Kini, harapan itu mulai tumbuh. Dari situasi yang sempat diliputi ketegangan, Tolikara kembali menatap masa depan dengan pesan sederhana namun mendalam: berbeda bukan berarti bermusuhan, dan persaudaraan harus selalu lebih kuat daripada pertikaian.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *